
Ayam Kesrut atau Uyah Asem berbahan baku ayam kampung muda yang dimasak dengan bumbu-bumbu sederhana yaitu, cabai merah besar, cabai rawit, terasi, gula, garam dan juga belimbing sayur. Nama kesrut sendiri diambil dari cara makannya yang diseruput atau istilahnya kesrut. Sementara nama uyah asem diambil dari rasanya yang asin dan segar asam serta bumbu yang digunakan. Cara memasaknya pun sangat mudah, ayam kampung dipotong kecil-kecil lalu direbus dengan bumbu yang sudah dihaluskan hingga matang. Terakhir masukkan belimbing sayur yang sudah dipotong-potong.
Bumbunya tanpa menggunakan bawang-bawangan. Jadi sangat sederhana sekali masaknya. Seperti sup. Rasanya pedas, gurih, segar, asam dari belimbing sayur. Ayamnya juga tidak perlu digoreng lebih dulu.
Saat ini, ayam kesrut ini banyak ditemukan di warung-warung di kawasan kota Banyuwangi dan pedesaan di lereng Gunung Ijen. Tidak hanya itu, hotel berbintang di Banyuwangi juga banyak yang menawarkan menu ayam kesrut ini. Sementara itu Hasnan Singodimayan, budayawan Banyuwangi kepada Kompas.com mengatakan ayam kesrut atau uyah asem mulai populer sejak tahun 1950-an dan masuk kuliner golongan kelas menengah. Saat dibukanya perkebunan di Banyuwangi pada tahun 1870-an banyak pendatang yang masuk ke Banyuwangi dengan membawa ragam kulinernya sehingga terjadi akulturasi bukan hanya budaya tapi juga soal makanan sehingga makanan di Banyuwangi unik dan beragam. Selain itu, ayam kesrut lebih banyak menggunakan bagian tulangan ayam seperti ceker, sayap dan bagian punggung karena dipengaruhi era penjajahan Jepang.

sumber: https://travel.kompas.com